garisbawah.idKonsumerisme dan Islam adalah artikel keislaman yang diposting oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Berita.

Sisi Gelap dari Konsumsi Berlebih: Benda-Benda Tak Terpakai dan Impian Amerika

Selama musim liburan terakhir, saat melewati rumah tetangga saya, saya tak bisa tidak memperhatikan mobil mereka yang diparkir di luar garasi, yang mendorong saya untuk merenung tentang simbol dari impian Amerika. Jika Anda mengamati dengan teliti, Anda kemungkinan akan menemukan banyak tetangga Anda mengadopsi praktik yang sama. Mungkin Anda juga melakukannya. Salah satu alasan mendasar di balik tren ini adalah akumulasi barang-barang seiring waktu, menjadikan rumah kita sebagai ruang penyimpanan untuk barang-barang yang mungkin sebenarnya tidak akan pernah kita gunakan.

Masyarakat kita telah merangkul konsumerisme, menjadikannya puncak dari prioritas kita, dan ini terlihat dalam tingkat konsumsi kita yang tertinggi di dunia. Seiring dengan itu, keserakahan perusahaan besar mendominasi. Kita terus-menerus diserang dengan visual menarik dari produk-produk, memikat kita dengan warna-warna yang cerah, fitur-fitur baru, rasa-rasa yang tak bisa ditolak, dan lainnya. Perusahaan-perusahaan raksasa dengan mahir memanipulasi psikologi publik melalui diskon dan taktik penjualan. Selain itu, acara-acara istimewa, musim liburan, dan peristiwa-peristiwa dirancang khusus untuk memancing keinginan untuk terus berbelanja, tak henti-hentinya mendorong kita untuk mendapatkan lebih dan lebih.

Dampak Komersialisasi: Ikatan Keluarga dan Kejaran Kekayaan Materi

Terkait Konsumerisme dan Islam, coba pertimbangkan ini… Hari Raya Idul Fitri, Hari Ibu, Hari Ayah, dan peristiwa serupa lainnya sangat dikomersialkan, memikat massa dengan penjualan yang memanfaatkan keinginan mereka akan kepuasan diri. Tapi inilah pertanyaannya: Apakah aktivitas komersial ini benar-benar meningkatkan hubungan kita, ataukah ikatan keluarga semakin memburuk dengan setiap dekade yang berlalu?

Pembatasan antara kebutuhan dan keinginan telah menjadi begitu samar sehingga rata-rata orang merasa kekurangan saat keinginan mereka tidak terpenuhi. Media sosial hanya memperkuat fenomena ini. Sekarang, orang tidak hanya membandingkan diri mereka dengan tetangga mereka; mereka bersaing dalam skala global. Kekayaan materi diperoleh dalam usaha mencapai efek “wow” yang diinginkan dan akumulasi “like”.

Harga Mahal dari Materialisme: Dampak Buruk pada Lingkungan dan Kesejahteraan

Tingkat konsumsi seperti itu tidak hanya menempatkan beban besar pada sumber daya, tetapi juga memiliki dampak buruk pada lingkungan. Dibandingkan dengan negara-negara lain, warga Amerika rata-rata menjalani gaya hidup yang sangat mewah. Dalam bukunya yang berjudul “The High Price of Materialism,” psikolog Tim Kasser menawarkan pandangan yang menarik. Dia menyatakan bahwa ketika individu mengadopsi nilai-nilai materialistik, kebahagiaan dan kepuasan hidup mereka secara keseluruhan menurun, sementara perasaan depresi dan kecemasan meningkat. Selanjutnya, Kasser mengusulkan bahwa individu yang materialistik cenderung lebih condong untuk menunjukkan perilaku egois dan memperlakukan atau memanipulasi orang lain.

Membongkar Konsumerisme: Kebenaran di Balik Kebahagiaan dan Hubungan

Masih terkait Konsumerisme dan Islam. Menariknya, ini bertentangan dengan pesan-pesan yang terus-menerus menghantam massa. Kampanye periklanan yang luas berusaha keras meyakinkan orang bahwa memperoleh produk-produk tertentu akan membawa kebahagiaan dan sukacita bagi mereka. Terkadang, mereka bahkan menyiratkan bahwa membeli barang-barang tertentu akan meningkatkan hubungan mereka, membuatnya lebih bermakna dan harmonis. Namun, kebenarannya tampaknya justru sebaliknya. Dalam masyarakat kontemporer, konsekuensi dari konsumerisme yang tak terkendali terlihat dari berbagai sisi. Kita menyaksikan krisis mulai dari rentenir, kehancuran fisik dan mental hingga degradasi lingkungan, semua berasal dari perilaku-perilaku yang tak terkendali dari individu-individu yang tunduk pada dorongan dan godaan. Ini telah menjadi gaya hidup yang menyerupai kecanduan, di mana pemerolehan produk dan layanan baru yang konstan diperlukan untuk mencapai rasa kepuasan yang sesaat.

Mengungkap Pola Konsumsi: Individualisme dan Dampak pada Populasi

Rata-rata orang di dunia yang telah berkembang seringkali percaya bahwa mereka tidak menghabiskan secara berlebihan, tetapi kenyataannya adalah mereka mungkin tidak menyadari sejauh mana tingkat konsumsi mereka. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah sifat individualistik dari hidup kita. Sebaliknya, rumah tangga dengan lebih banyak anggota keluarga cenderung mengkonsumsi lebih sedikit, karena sumber daya dibagi di antara kelompok yang lebih besar. Sementara korporasi Amerika mungkin menyebarkan gagasan bahwa overpopulasi adalah penyebab degradasi lingkungan, tingkat konsumsi di negara-negara yang lebih padat penduduknya sebenarnya lebih rendah daripada di Amerika Serikat.

Ajaran Islam tentang Konsumerisme: Hak, Pemborosan, dan Kepantasan

Konsumerisme juga telah melahirkan sistem yang mengeksploitasi, di mana perusahaan-perusahaan besar mencari negara-negara miskin untuk tenaga kerja murah dan menjual barang-barang yang dihasilkan dengan harga yang sangat tinggi, sehingga mereka memperoleh keuntungan yang besar. Dalam Islam, ada penekanan yang mendalam pada hak-hak semua makhluk di planet ini, yang dikombinasikan dengan panduan untuk menghindari pemborosan. Ajaran-ajaran ini mendorong individu-individu untuk menemukan keseimbangan antara kikir dan pemborosan, mengelola urusan mereka secara moderat. Menghabiskan uang dengan sembarangan dianggap dipengaruhi oleh tindakan setan.

Al-Quran membahas masalah ini, dengan menyatakan, “Dan berikanlah hak saudaramu yang sesuai, dan [juga] orang miskin dan musafir, dan janganlah engkau boros. Sesungguhnya pemboros adalah saudara-saudara setan, dan sesungguhnya setan itu sangat tidak berterima kasih kepada Tuhannya” (Al-Quran 17:26-27). Ayat-ayat ini menekankan pentingnya memenuhi kewajiban terhadap keluarga, membantu mereka yang membutuhkan, dan menghindari pengeluaran yang mewah dan boros. Perbuatan pemborosan disamakan dengan bersekutu dengan setan, sedangkan ketidakberterima kasih kepada Tuhan dikaitkan dengan setan.

Menyeimbangkan Keinginan dan Hak: Perspektif Islam tentang Kepemilikan Materi

Ketika kita memeriksa kecenderungan kita untuk membeli barang-barang materi melalui lensa Islam, dua aspek kunci muncul. Pertama, ada kejaran keinginan. Seringkali, kita dengan gegabah berusaha memenuhi keinginan kita tanpa mempertimbangkan konsekuensi negatif yang mungkin timbul. Islam mengutuk perilaku ini dan mendorong keterkendalian diri, serta pemuasan keinginan yang ditunda, mendorong individu untuk menggunakan penilaian yang baik saat memenuhi kebutuhan mereka. Kedua, Islam menekankan pentingnya mengakui hak-hak orang di sekitar kita. Ia memperjuangkan gaya hidup yang seimbang antara kebaikan kolektif dan pengejaran yang bersifat individualistik dan egois. Keluarga, kaum miskin, orang-orang yang terlantar, dan umat manusia secara keseluruhan memiliki bagian dalam apa yang kita miliki, dan oleh karena itu, sedekah adalah pilar Islam.

Islam membayangkan masyarakat yang dibangun di atas prinsip-prinsip kesejahteraan dan menolak eksploitasi. Penting untuk diakui bahwa semakin kita hanya fokus pada diri kita dan keinginan kita, semakin tidak puas kita menjadi. Kedamaian dan kepuasan sejati ditemukan dalam membina rasa kepuasan. Ketika digabungkan dengan tujuan yang bermakna, hal itu mengarah pada kehidupan yang sangat memuaskan dan penuh makna. Al-Quran menyatakan, “Dan [orang-orang yang beriman] adalah orang-orang yang jika menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, dan (jalan) di tengah-tengah (itu), adalah keseimbangan” (Al-Quran 25:67). Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga pendekatan seimbang terhadap pengeluaran dan kemurahan hati.

Melarikan Diri dari Materialisme: Menemukan Kebahagiaan Sejati melalui Kepantasan dan Tujuan

Sudah waktunya bagi kita untuk mengubah pola pikir kita dan menyadari bahwa mentalitas kita yang berorientasi pada konsumsi tidak hanya merugikan kesejahteraan kita sendiri tetapi juga memiliki konsekuensi negatif bagi orang lain. Materialisme tidak bisa membawa kebahagiaan yang abadi, dan pengejaran tanpa henti terhadap kekayaan melalui kompetisi menguras kebahagiaan dari hidup. Sesuai dengan ini, Tony Robbins, pelatih kehidupan terkenal yang telah bekerja dengan para presiden, atlet, dan miliarder, mengamati bahwa di antara individu-individu yang kaya dan sukses yang ia temui, mereka yang merasakan kebahagiaan sejati adalah mereka yang memiliki tujuan hidup dan fokus untuk memberi kembali kepada orang lain. Secara ringkas, Islam mengajarkan kepada kita nilai kepantasan, kepuasan, dan kehidupan yang berorientasi pada tujuan. Dengan mengadopsi prinsip-prinsip ini, kita dapat melepaskan diri dari perangkap materialisme dan menemukan kepuasan yang sejati sambil berdampak positif pada kehidupan orang lain.

Demikian isi artikel keislaman yang berjudul Konsumerisme dan Islam dan diposting oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Berita.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *