garisbawah.idMoralitas dan Islam: Membentuk Nilai-nilai Sosial di Dunia yang Berubah oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Islam.

Artikel keislaman tentang Moralitas dan Islam: Membentuk Nilai-nilai Sosial di Dunia yang Berubah ini dibagi dalam beberapa sub judul. Secara lebih lengkap, silahkan baca tulisan dibawah ini.

Perubahan Sosial dan Perubahan Moralitas

Beberapa bulan yang lalu, saat menjelajahi YouTube, muncul film tahun 80-an yang pernah saya tonton bersama anak saya. Sambil mengklik untuk sekilas, saya memperhatikan gaun para aktrisnya, mengenang bagaimana masyarakat telah berubah karena teknologi. Segala sesuatu, mulai dari mode hingga kebiasaan makan telah berubah, dan pandangan tentang benar dan salah kini menjadi bahan perdebatan seiring dunia yang cepat bertransformasi.

Apa Itu Moralitas dan Islam, Mengapa Diperlukan?

Menurut Kamus Oxford, moralitas adalah “sistem nilai dan prinsip perilaku tertentu, terutama yang dipegang oleh orang atau masyarakat tertentu.”

Manusia memiliki rasa moralitas yang mendasar, tetapi kompleksitasnya dapat mengarah pada kerumitan. Ambil contoh, mereka yang mengutuk pembunuhan dan hukuman mati, namun mendukung aborsi sebagai masalah pilihan.

Jika nilai-nilai moral bersifat fleksibel dan dapat berubah sesuai dengan keinginan sekelompok orang, hal ini dapat menyebabkan korupsi masif karena golongan berkuasa dalam masyarakat apa pun akan menegaskan pengaruh mereka dan menekan massa.

Seseorang mungkin berpendapat bahwa hukum konstitusi didasarkan pada logika untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, bagaimana kita menafsirkan perbedaan hukum yang sangat besar ini? Pertimbangkan variasi usia pernikahan yang berbeda di seluruh dunia: beberapa tempat mengizinkan pernikahan pada usia 12 tahun, menganggapnya dapat diterima, sementara di tempat lain, itu diklasifikasikan sebagai pelecehan anak. Terkejutnya, di California, tidak ada usia pernikahan yang legal, sementara New York baru-baru ini mengubah undang-undangnya.

Kita berasumsi bahwa kita memiliki kebebasan dan kehendak bebas untuk hidup sesuai dengan keinginan kita. Namun, pada kenyataannya, pada setiap waktu tertentu, kita selalu mengikuti beberapa jenis standar. Ini adalah kondisi yang kita terima dalam masyarakat tertentu yang membentuk persepsi dan gagasan kita tentang kehidupan. Itulah alasan mengapa berbagai daerah memiliki budaya dan tradisi yang berbeda.

Jadi, jika budayanya begitu berbeda satu sama lain, bagaimana kita tahu apakah pidato atau tindakan tertentu itu benar atau salah? Siapa yang menentukan apa yang jahat dan apa yang baik? Bagaimana kita tahu apakah tindakan tertentu bermanfaat atau merupakan sarana korupsi? Suatu negara mungkin disebut beradab pada suatu waktu, namun perubahan zaman dapat menggambarkan negara itu tidak begitu beradab sama sekali.

Moralitas dan Islam: Siapa yang Menetapkan Standar?

Ilmu pengetahuan biasanya dianggap sebagai kriteria di mana segalanya didasarkan pada bukti kualitatif dan kuantitatif. Seiring perkembangan teknologi, kita mampu membuat peralatan yang lebih baik untuk mengukur dan bereksperimen. Ini memungkinkan kita mengukur hal-hal dengan lebih tepat dan merevisi teori ilmiah. Tidak akan pernah ada waktu di mana kita bisa mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjelaskan semua hal di alam semesta sebagai fakta. Bagaimanapun juga, kita telah ada di alam semesta ini selama jutaan tahun dan para ilmuwan tidak sepakat tentang beberapa teori dasar.

Demikian pula, konsep moralitas bervariasi sangat antara budaya dan era. Budaya juga adalah salah satu lensa melalui mana orang melihat moralitas. Pada zaman pra-Islam, praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup adalah hal yang diterima. Saat ini, di beberapa negara, praktik yang sama telah berubah menjadi aborsi janin perempuan. Seseorang jelas dapat melihat masalah mengambil moralitas hanya dari budaya.

Morailats Perspektif Islam

Islam menekankan moralitas dan memberikan hukum dan prinsip-prinsip yang mapan untuk masyarakat yang sehat. Berbeda dengan pandangan budaya tentang benar dan salah, hukum Islam tidak berubah, namun dapat disesuaikan dengan beragam budaya di seluruh dunia. Apa yang dulu dianggap tidak bermoral tetap demikian, terlepas dari norma-norma sosial saat ini.

Pedoman Islam telah bertahan dalam ujian waktu dan tidak ada yang perlu direformasi. Hukum-hukum ini berpusat pada Tuhan dan berasal dari kepercayaan pada satu Tuhan yang benar. Keyakinan ini lah yang mengubah masyarakat tidak teratur dan terpecah-belah pada zaman pra-Islam menjadi salah satu peradaban terbesar di dunia yang dikenal sebagai peradaban Islam. Keesaan Tuhan memberikan dasar bagi masyarakat yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Moralitas dan Islam: Merangkul Bimbingan Ilahi

Tuhan yang menciptakan kita memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang baik bagi kita. Sama seperti setiap mesin atau program canggih dilengkapi dengan panduan pengguna, kita juga diberikan instruksi untuk diikuti agar mencapai keseimbangan dalam hidup dan berkembang secara kolektif. Tidak ada penciptaan lain di planet ini yang lebih intelektual dari kita. Lalu bagaimana kita tidak memiliki pedoman?

Salah satu argumen melawan Islam adalah bahwa agama ini memberlakukan banyak pembatasan, dan beberapa berpendapat bahwa manusia harus memiliki lebih banyak kebebasan untuk mengejar kebahagiaan. Namun, pertimbangkan implikasi dari kebebasan yang lengkap, seperti seseorang yang melanggar lampu merah demi kebahagiaan sesaat. Jika pola pikir seperti ini menyebar, dapat mengarah pada konsekuensi yang kacau dan berbahaya.

Moralitas dan Islam: Bagaimana Bimbingan Ilahi Membentuk Kesejahteraan dan Pilihan Masyarakat

Pada tahun 2020, Amerika Serikat memiliki lebih dari 16.000 pusat rehabilitasi, dan angkanya terus meningkat. Namun, di Madinah, ketika wahyu ilahi melarang minuman beralkohol, jalanan dipenuhi dengan botol minuman beralkohol yang dibuang, dan tidak ada lagi kebutuhan untuk pusat rehabilitasi. Hal ini karena iman masyarakat pada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana mendorong mereka untuk mematuhi kode kehidupan yang diwahyukan oleh-Nya. Ini bukan untuk mengurangi pentingnya pusat rehabilitasi, tetapi agama dan Tuhan memainkan peran penting dalam proses penyembuhan. Memahami bahwa apa yang Tuhan tetapkan pada akhirnya adalah moral dan dalam kepentingan terbaik individu dan masyarakat memberikan kekuatan untuk membuat keputusan yang tepat.

Demikian artikel keislaman tentang Moralitas dan Islam: Membentuk Nilai-nilai Sosial di Dunia yang Berubah oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Islam.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *