garisbawah.idDinamika Gender dalam Islam oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Sosial. Artikel ini membahasa antara lain: Peran Gender: Debat Antara Pria dan Wanita, Perlunya Keseimbangan Antara Gender, Menemukan Keseimbangan Antara Ekstrem dan beberapa hal lagi. Berikut ini artikel lengkapnya:

Peran Gender: Debat Antara Pria dan Wanita

Ketika Anda menjelajahi internet dan khususnya media sosial, Anda mungkin akan menemui diskusi antara pria dan wanita dengan pandangan yang berbeda. Beberapa wanita menyuarakan keprihatinan tentang bagaimana mereka diperlakukan oleh pria. Orang lain, berdasarkan kisah-kisah ini, berpendapat bahwa pria dapat menunjukkan perilaku beracun dan menganjurkan perubahan. Mereka mungkin menyebut dominasi pria dan patriarki sebagai faktor-faktor yang dapat berdampak negatif pada pertumbuhan dan kesejahteraan wanita. Beberapa feminis percaya bahwa perilaku berbahaya oleh sebagian pria dapat berkontribusi pada banyak masalah dalam masyarakat.

Dinamika Gender dalam Islam: Perlunya Keseimbangan Antara Gender

Topik ini mengingatkan pada konsep bandul dalam fisika, yang berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lain sebelum akhirnya mencapai keadaan keseimbangan. Demikian pula, ada beberapa individu yang menganggap bahwa wanita memiliki sedikit arti dalam dunia ini dan bahwa hanya pria yang mampu mengelolanya. Namun, pandangan ini mengabaikan kontribusi signifikan dari wanita dan pentingnya keragaman gender dalam semua aspek kehidupan. Jika pria memang satu-satunya yang diperlukan untuk berfungsinya masyarakat, maka Nabi Adam (semoga kesejahteraan Allah menyertainya) akan menjadi manusia satu-satunya yang diciptakan, atau seleksi alam akan menghilangkan spesies wanita sama sekali.

Penting untuk diakui bahwa pria dan wanita keduanya memiliki kelebihan unik dan harus dihargai secara setara. Sementara upaya untuk mencapai kesetaraan gender penting, hal ini bukan tentang wanita berusaha meniru pria atau bersaing dengan mereka dalam hal pilihan hidup yang sama. Sebaliknya, ini tentang menciptakan masyarakat di mana kedua gender memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar minat dan tujuan mereka.

Menemukan Keseimbangan Antara Ekstrem

Sebagai contoh, sementara penting untuk mendorong anak perempuan untuk menjelajahi bidang STEM, tidak membantu untuk mempromosikannya sebagai bidang yang hanya untuk pria dan bahwa anak perempuan seharusnya masuk ke dalamnya hanya untuk membuktikan bahwa mereka bisa. Penting untuk menyediakan lapangan bermain yang adil dan membiarkan individu memilih jalur mereka sendiri berdasarkan minat dan kelebihan mereka sendiri, daripada mencoba memenuhi standar yang ditetapkan oleh pria. Ketika feminis berusaha bersaing dengan pria, semata-mata demi meniru pilihan hidup mereka, mereka mungkin mengabaikan kelebihan unik mereka, yang berpotensi mengarah pada kehidupan yang tidak memuaskan. Penting untuk diakui bahwa kedua gender memiliki kelebihan yang berbeda yang saling melengkapi.

Ekstremisme Gender: Bagaimana Pandangan Ekstrem Merugikan Masyarakat

Membahas Dinamika Gender dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari ekstrimisme gender. Daripada mengadopsi sikap “apa yang bisa dilakukan pria, wanita juga bisa melakukannya,” penting untuk menghargai dan merayakan keragaman. Misalnya, di Amerika Serikat, ada dorongan untuk mendorong anak perempuan untuk mengejar bidang STEM, yang secara tradisional didominasi oleh pria. Meskipun luar biasa bagi wanita untuk mengejar hasrat mereka, hal itu menjadi bermasalah jika standarnya disetel pada tingkat kinerja pria, yang dapat menyebabkan tekanan yang tidak perlu untuk sesuai dengan standar tertentu.

Jelas bahwa ada iklim pembalasan timbal balik, dengan kedua gender, terutama mereka yang berada pada ujung ekstrem, enggan mengakui pihak lain, baik dalam kata-kata maupun tindakan mereka. Sifat konfrontatif yang ditunjukkan oleh kedua belah pihak tidak hanya merugikan bagi wacana yang sehat tetapi juga menghambat fungsi keseluruhan masyarakat. Konflik internal ini merusak jalinan sosial dan melahirkan perpecahan yang akan membutuhkan waktu dan usaha yang signifikan untuk sembuh.

Perspektif Islam tentang Hubungan Gender: Sekutu dalam Iman dan Keluarga

Ketika memeriksa hubungan gender dari perspektif Islam, sebuah ayat khusus menonjol karena mendefinisikan hubungan saling menguntungkan yang ideal yang seharusnya ada antara pria dan wanita.

Orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan sebenarnya adalah sekutu satu sama lain. Mereka menyuruhkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qur’an 9:71)

Melalui konsep “sekutu,” Islam membentuk kerangka kerja untuk kolaborasi. Istilah yang digunakan dalam bahasa Arab untuk “sekutu” juga mencakup makna-makna seperti “penolong, pendukung, teman, dan pelindung.” Jika elemen-elemen penting dari aliansi ini rusak dalam suatu masyarakat, korban pertama biasanya adalah unit keluarga. Ketika keluarga menjadi disfungsional dan terpecah, anak-anak lebih rentan mengembangkan masalah perilaku dan membuat pilihan hidup yang tidak sehat. Menjaga integritas unit keluarga oleh karena itu penting untuk memupuk kesejahteraan dan perkembangan positif anak-anak.

Dinamika Gender dalam Islam: Kesetaraan Spiritual, Perbedaan Sosial

Dinamika gender dalam Islam ada keterkaitan dengan kesetaraan spiritual dan juga perbedaan sosial. Dalam rangka memastikan masyarakat yang berfungsi baik, Islam memberikan panduan untuk melindungi hak-hak semua individu. Peran gender didefinisikan dan tanggung jawab ditugaskan berdasarkan kemampuan fisik, emosional, dan kemampuan unik dari masing-masing gender. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa skor kecerdasan (IQ) dari kedua gender sama. Kemungkinan karena kesetaraan ini, Islam tidak membatasi wanita pada domain yang sempit, bertentangan dengan persepsi umum. Wanita didorong untuk mengejar pendidikan, karir profesional, dan bahkan kewirausahaan. Namun, tanggung jawab utama mereka tetap pada rumah dan keluarga. Islam juga mengarahkan wanita untuk tidak merasa iri terhadap hak istimewa atau karunia yang diberikan kepada gender yang berlawanan. Biasanya beberapa individu percaya bahwa rumput selalu lebih hijau di sisi lain. Ketika seseorang terlalu terobsesi dengan apa yang dimiliki orang lain, mereka mungkin dengan mudah mengabaikan berkah yang telah diberikan kepada mereka sendiri, yang dapat mengarah pada kehidupan yang penuh dengan amarah dan rasa tidak puas atas apa yang mereka tidak miliki.

Pandangan Islam tentang Gender: Peran yang Saling Melengkapi, Kelebihan Unik

Peran gender dalam Islam didefinisikan berdasarkan kemampuan fisik dan emosional mereka dan bersifat melengkapi. Pria biasanya ditugaskan peran pencari nafkah karena mereka lebih cocok untuk tugas yang keras dan berat. Namun, hal ini tidak berarti bahwa wanita dilarang untuk mendapatkan uang dan menyimpannya untuk diri mereka sendiri, selama itu tidak mengganggu tanggung jawab rumah tangga mereka. Tugas domestik, di sisi lain, biasanya ditugaskan pada wanita karena mereka lebih penyayang dan peduli secara alami. Intinya adalah bahwa masing-masing gender menambah kekuatan satu sama lain dengan kemampuan unik mereka, dan keduanya tidak bisa tanpa yang lain. Penting untuk diakui bahwa perbedaan gender ini adalah hasil desain dan masing-masing gender memiliki kelebihan dan kelemahan uniknya sendiri.

Pentingnya Kolaborasi dalam Islam: Cara untuk Mencapai Masyarakat yang Makmur

Tantangan menciptakan masyarakat yang harmonis dan makmur semakin kompleks dalam budaya yang egosentris dan individualistik. Dalam konteks ini, orang cenderung memprioritaskan kepentingan dan gagasan pribadi mereka, menghambat perkembangan semangat kolektif dan kolaboratif. Solusinya, oleh karena itu, terletak dalam pergeseran dari mentalitas “Saya” menjadi mentalitas “Kita,” yang memupuk kepercayaan dan meningkatkan kerja tim. Islam mengakui pentingnya kolaborasi untuk menciptakan masyarakat yang berfungsi baik, di mana semangat kompetitif didorong tetapi harus disertai dengan saling menghormati dan harapan realistis antara gender. Tanpa kerangka kerja seperti itu, sikap yang penuh pertempuran dapat mengancam fungsi masyarakat.

Demikian artikel tentang kesetaraan dengan judul Dinamika Gender dalam Islam oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Sosial.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *