garisbawah.idSabr – Lebih dari Sekadar Kesabaran oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Islam.

Bagi banyak umat Muslim, istilah “sabr” telah menjadi sinonim dengan kata “kesabaran.” Namun, keindahan bahasa Arab adalah bahwa banyak kata dalam bahasa Arab, seperti sabr, ihsan, taqwa, dan lainnya, memiliki cakupan yang sangat luas sehingga tidak ada kata tunggal dalam bahasa Indonesia yang setara dengan mereka. Saat fokus pada konsep sabr, istilah ini memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kesabaran.

Sebagai umat Muslim, kita memahami pentingnya menunjukkan sifat sabr dalam kehidupan kita. Bersama dengan menjadi bagian dari salah satu dari 99 nama Allah (Aṣ-Sabūr), Allah telah memerintahkan kepada para mukmin untuk merenungkan sifat ini. Ini terlihat dalam ayat berikut dari Al-Qur’an:

Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (dengan) sabar dan solat, kerana sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (2:153)

Dalam bahasa Indonesia, kata “kesabaran” sering dianggap sebagai kata reaktif dengan konotasi negatif, yang berarti Anda bersabar setelah menghadapi cobaan atau ujian. Beberapa orang bahkan berpendapat bahwa kesabaran berarti duduk diam dan berdoa sambil berharap ada mukjizat yang akan memperbaiki situasi. Namun, ini bukanlah kesabaran dalam Islam yang sejati. Sabr yang sejati (seperti tawwakul) adalah sifat yang aktif dan positif.

Definisi linguistik sabr adalah menahan atau menghentikan, dan definisi harfiah dari kata tersebut (tergantung pada cara penggunaannya) adalah ketabahan atau keteguhan. Dalam konteks ini, salah satu definisi yang mungkin diberikan oleh para ulama adalah bahwa sabr adalah keteguhan untuk tetap kokoh tanpa memandang keadaan.

Namun, jika kita melihat lebih dalam daripada definisi permukaan sabr, banyak ulama sebenarnya telah menyebutkan bahwa sabr memiliki 3 kategori atau bentuk yang berbeda:

  1. Kesabaran dalam taat kepada Allah (SWT) (sabr ‘ala al-ta’ah)

Jenis sabr ini berarti mengikuti apa yang Allah perintahkan, bahkan ketika itu tidak nyaman atau mudah. Sebagai contoh, dalam ayat 134 dari Surah Al-Imran, Allah memerintahkan kita untuk menahan amarah. Kemarahan adalah emosi manusiawi yang alami, dan kita semua akan mengalami saat-saat ketika kita akan tergoda untuk kehilangan kendali atas emosi kita. Namun, meskipun tidak ada di antara kita yang akan sempurna, usaha yang kita lakukan untuk menahan amarah ketika kita tergoda untuk marah adalah tindakan sabr.

  1. Kesabaran dalam menjauhi yang haram (sabr ‘an al-ma’siyyah)

Ada banyak hal dalam masyarakat modern kita yang diterima oleh banyak orang tetapi bertentangan dengan apa yang Allah perintahkan kepada kita atau apa yang Nabi Muhammad (SAW) sarankan kepada kita. Sebagai contoh, penggunaan bahasa kasar secara luas diterima dalam budaya saat ini, tetapi ada banyak hadis sahih di mana Nabi Muhammad (SAW) memperingatkan kita tentang betapa seriusnya dosa penggunaan bahasa kasar. Bahkan Allah melarang kita menggunakan bahasa kasar dalam ayat kesebelas dari Surah Hujurat.

Sabr dalam kategori ini berarti memberikan prioritas kepada perintah Allah dan saran Nabi Muhammad (SAW) daripada apa yang masyarakat atau dunia katakan kepada kita. Dengan kata lain, sabr di sini berarti bahwa kita mengikuti ketetapan Allah daripada hukum atau praktik yang diterima oleh masyarakat, dan kita berusaha untuk tetap kokoh dalam usaha ini.

  1. Kesabaran di tengah cobaan (sabr ‘ala al-ibtila).

Setiap dari kita akan mengalami saat-saat ketika kita dihadapkan pada cobaan. Cobaan bisa datang dalam berbagai bentuk. Itu bisa berupa tantangan finansial, kesehatan, keluarga, atau pribadi. Sabr dalam kategori ini berarti tidak kehilangan iman ketika kita dihadapkan pada cobaan dan tetap konsisten dalam usaha kita untuk mengatasi rintangan.

Contoh terbaik dari jenis sabr seperti ini adalah contoh Nabi Muhammad (SAW) ketika ia menyampaikan Islam di Mekah selama tiga belas tahun pertama misinya. Selama tiga belas tahun itu, dia menghadapi segala jenis kesulitan, penyalahgunaan, dan cobaan. Namun, melalui semuanya itu, dia tetap konsisten dalam usahanya, konsisten dalam doanya, dan konsisten dalam harapannya dan sikap positifnya terhadap Allah. Tentu saja, tidak ada di antara kita yang memiliki tingkat iman yang sama dengan Nabi Muhammad (SAW) karena dia adalah yang terbaik di antara manusia. Namun, contoh sabr-nya harus menjadi titik pengajaran bagi kita tentang bagaimana sabr dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Melalui contohnya, kita melihat bahwa ada 3 karakteristik yang sebaiknya kita tunjukkan ketika menghadapi cobaan. Karakteristik-karakteristik tersebut adalah:

1. Tidak mengeluh: Nabi Muhammad (SAW) pernah berkata, “Kesabaran yang sejati ada pada saat awal munculnya musibah.” (Bukhari). Apa yang dimaksud dengan ini adalah bahwa reaksi awal kita saat dihadapkan pada rintangan menunjukkan iman sejati kita kepada Allah. Ketika kita mengalami atau mendengar masalah, apakah kata pertama yang keluar dari mulut kita adalah kata kasar atau keluhan, ataukah yang pertama kali kita katakan adalah “Alhamdulillah?” Jawaban atas pertanyaan ini mencerminkan iman kita kepada Allah. Karena itu, mengeluh membuka pintu bagi setan.

2. Tidak mundur dalam usaha: Sabr terlihat dalam usaha kita. Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (13:11). Ini menunjukkan bahwa, meskipun hasil selalu berada di tangan Allah, kita perlu berusaha ketika dihadapkan pada cobaan atau rintangan.

Ketika Nabi Muhammad (SAW) menyampaikan Islam di Mekah, dia tidak pernah mundur dalam usahanya. Dia tidak hanya berdoa kepada Allah dan menunggu mukjizat. Sebaliknya, dia aktif dalam usahanya untuk menyebarkan pesan Islam kepada orang-orang, terlepas dari apakah usahanya menghasilkan hasil apa pun.

3. Tidak mundur dalam berdoa: Iman sejati terlihat dalam saat-saat sulit. Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan pada cobaan, kita perlu lebih mendalam dalam hubungan kita dengan Allah karena Dialah yang benar-benar bisa mengubah situasi kita.

Tidak peduli apa yang dialami Nabi Muhammad (SAW) selama di Mekah selama tiga belas tahun itu, dia tidak pernah mundur dalam doanya kepada Allah, dan situasinya di luar tidak pernah memengaruhi sikapnya terhadap Allah. Bahkan ketika dia kehilangan istri tercintanya, Khadijah (RA), dan paman tercintanya, Abu Talib, selama Tahun Kesedihan, dia tetap berpaling kepada Allah. Kita tidak selalu bisa memilih situasi kita, tetapi kita bisa memilih sikap dan bagaimana kita merespons situasi tersebut.

Balasan untuk SABR

Ada puluhan balasan yang disebutkan bagi mereka yang menunjukkan sabr dalam kehidupan mereka. Untuk menjaga agar hal ini singkat, mari sebutkan satu balasan yang diberitahukan oleh Al-Qur’an:

“Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (Qur’an, 3:146)

Tidak seperti banyak balasan lain yang Allah janjikan, kasih sayang Allah tidak diukur dengan angka. Namun, dalam sebuah Hadis Al-Qudsi yang terkenal, Nabi Muhammad (SAW) menjelaskan berkat yang kita terima ketika Allah mencintai kita:

Nabi Muhammad (SAW) berkata: Allah (SWT) berfirman: “Ketika Aku mencintai [hamba-Ku], Aku adalah pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang dia gunakan untuk melihat, tangan yang dia gunakan untuk memukul, dan kaki yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta [sesuatu] kepada-Ku, pasti Aku akan memberikannya kepadanya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku akan memberikannya kepadanya.” (Bukhari).

Dan apakah yang bisa menjadi balasan yang lebih baik dari ini?

Demikian artikel keislaman tentang Sabr – Lebih dari Sekadar Kesabaran oleh situs GARIS BAWAH melalui kanal Islam.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *